Seni Berkomunikasi Dengan Penyandang Difabel

Komunikasi merupakan hal mendasar yang selalu dilakukan setiap hari. Komunikasi beragam jenis serta caranya, mulai dari yang sederhana hingga bentuk yang kompleks. Mulai dari penuturan kata-kata, melalui tulisan, bahkan bisa dengan senyuman, anggukan kepala, dan berbagai simbol atau isyarat yang digunakan.

Simbol yang diciptakan memiliki arti tersendiri bagi yang mengerti akan sebuah simbol atau isyarat. Sehingga mewujudkan bentuk komunikasi dari hal tersebut. Sehingga tersampaikannya maksud atau pesan merupakan inti sari dari adanya komunikasi. Begitu pula yang dilakukan oleh penyandang difabel.

Memiliki keterbatasan bukan berarti tidak sama sekali melakukan aktivitas berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya. Seni berkomunikasi inilah yang memungkinkan bagi penyandang difabel untuk mengekspresikan diri, berbagi cerita, dan menjalin hubungan dengan dunia di sekitar mereka, terlepas dari hambatan fisik maupun bahasa.

Dengan berbagai bantuan seperti alat maupun media yang semakin berkembang, menjadi jembatan para penyandang difabel melakukan komunikasi dengan sekitar, serta mengoptimalkan fungsinya.

Dalam seni visual, misalnya, seniman difabel dapat menggunakan warna, bentuk, dan garis untuk mengungkapkan perasaan dan pengalaman. Dengan goresan karya yang diciptakan tersebut mengandung makna yang menggambarkan perasaan hati maupun pikiran penyandang difabel yang tertuang melalui sebuah karya.

Selain itu, dengan hasil karya yang dibuat, penyandang difabel dapat menunjukkan ketangguhan, keindahan, dan keberaniannya, serta memberikan informasi bagi orang lain yang menghadapi tantangan serupa.

Tak dipungkiri, dalam seni pertunjukan pun para penyandang difabel pun unjuk kemampuan melalui pementasan seperti teater, musikalisasi, atau pertunjukan seni yang lainnya. Dengan begitu penyandang difabel dapat menunjukkan bakatnya dengan cara menampilkan simbol-simbol diatas pementasan.

Dari menyaksikan pementasan yang disajikan, para penonton pun bisa belajar memahami simbol yang digunakan penyandang difabel untuk berkomunikasi. Bentuk dari olah
tangan, olah mulut, bahkan olah tubuh yang setiap gerakannya menampilkan pesan tersirat yang ingin disampaikan kepada lingkungan sekitarnya.

Baca Juga  SD Kristen 3 YSKI Menggelar Drama Musikal dalam Rangka Festival Bulan Bahasa 2022

Simbol yang sering dilihat, mungkin di dalam televisi, gawai, bahkan berinteraksi secara langsung atau sering disebut dengan bahasa isyarat yang beragam bentuknya. Mulai dari gerakan tangan diikuti olah mulut, gerakan tangan diikuti ekspresi wajah, atau hanya dengan gerakan tangan saja bahasa pun telah tersampaikan.

Dengan adanya bahasa isyarat yang saat ini mulai dilihat oleh banyak kalangan, menjadikan penyandang difabel menjadi lebih diperhatikan. Bahkan tak sedikit yang merasakan bahwa dengan keterbatasan, tetap berhak untuk mendapatkan perlakuan yang sama dengan lingkungannya.

Namun perilaku tak mengenakkan terkadang bisa diumpai, yaitu dengan adanya kasus-kasus yang menjadikan penyandang difabel dijadikan “sasaran empuk’” dalam tindak bullying, kriminalitas, pelecehan, dan sebagainya.

Para pelaku yang tak bertanggung jawab dan tak memiliki rasa empati tersebut menganggap, penyandang difabel rentan dijadikan sebagai korban dalam tindakan kejinya. Pasalnya, penyandang difabel tidak akan melawan. Oleh karena itu, pelaku mencari titik kelemahan dari penyandang difabel yaitu sulit dalam berkomunikasi.

Yadi, penyandang disabilitas sedang berjualan di trotoar depan sekolah dasar
Yadi, penyandang disabilitas sedang berjualan di trotoar depan sekolah dasar

Hal inilah yang mendasari bahwa
penyandang difabel juga berhak mendapatkan hak yang seharusnya didapatkan. Seperti rasa aman dan rasa nyaman, serta hak untuk hidup sewajarnya di masyarakat.

Salah satu penyandang difabel yang akrab disapa Yadi, penyandang difabel
asal Pati yang sekarang berdomisili di Jepara, merupakan salah satu contoh difabel istimewa, yang berprofesi sebagai loper koran di Jawa Tengah.

Tak hanya berprofesi sebagai loper koran, Yadi juga berjualan makanan ringan serta mainan anak-anak. Dengan menggunakan sepeda roda tiga, dirinya hidup secara nomeden atau berpindah-pindah tempat. Mulai dari rumah teman-temannya, tinggal di mushola maupun di masjid.

Baca Juga  CSR BRI Peduli Salurkan Rp 285 Juta Untuk Kelompok Tani Pucangrejo Kendal

Yadi mengaku, sebagai penyandang disabilitas, dirinya memiliki sejumlah keresahan. Dikatakan, bahwa para penyandang difabel juga membutuhkan perhatian, bukan belas kasihan semata. Karena dengan perhatian yang didapat, maka dirinya akan merasa berarti untuk lingkungan sekitarnya.

Menurutnya, perhatian yang diharapkan
ialah bagaimana bisa berkontribusi dan melakukan hal yang mereka inginkan seperti khalayak lainnya. Dengan mendapatkan perhatian, penyandang disabilitas dapat berkreasi sesuai dengan kemampuan dan kapasitas yang dimiliki.

Sementara Budi, salah seorang penyandang disabilitas asal Pecangaan, Jepara mengaku, keterbatasan yang ia miliki tak menghalanginya untuk membuat hasil karya buah tangannya yaitu mengolah limbah kayu menjadi mainan mobil-mobilan.

Menurutnya, bentuk perhatian yang telah diberikan Pemerintah Jepara kepada para penyandang difabel adalah dengan mengadakan beberapa alat transportasi berupa kendaraan yang dapat digunakan para kaum difabel sebagai sarana berjualan. Sehingga sangat membantu.

Dalam hal ini dapat dilihat, hal yang dianggap sebagai kekurangan seseorang dapat diubah menjadi kemampuan yang tidak semua orang bisa melakukan. Karena berbeda bukan berarti hal yang harus dikucilkan. Namun, berbeda bisa menjadi hal yang membanggakan.

Seperti halnya kaum difabel yang memiliki prestasi dengan keterbatasan bisa menjadi atlet dalam ajang paralympic seperti menjadi atlet renang, atlet bulu tangkis, atlet bowling merupakan hal yang menjadi sorotan bagi pemerintah dan sekitarnya.

Bahkan, banyak dari kaum difabel yang menjadi model dalam peragaan busana, produk kosmetik, atau ada yang sukses dalam mendirikan usaha dan mampu mengubah diri, dari yang dianggap biasa menjadi sosok yang luar biasa. Oleh karena itu, tak sama bukan berarti berbeda, tapi tak sama bisa menjadi hal yang istimewa. (Ayuk)

Penulis : Dwi Rahayu Rizqiana
2210202013
Ilmu Komunikasi/Untidar
Dosen : Dr. Hari Wahyono, M.Pd.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 50 = 55