Kendal  

Disdikbud Launching Kendal Bersua

KENDAL, lintasjateng.com – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal, melaunching logo “Kendal Bersua” yang memiliki arti Kenali, Dalami, Belajar Serentak Untuk Siswa, di salah satu resto di Weleri, Jumat (27/1/2023).

Selain dilaksanakan secara luring, acara launching juga diisi dengan pelatihan Aplikasi Kepengawasan e-Kendali, yang diikuti para tenaga pendidikan se-Kendal melalui daring.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kendal, Wahyu Yusuf Akhmadi mengatakan, dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran, saat ini Pemkab Kendal sedang melaksanakan akselerasi pembelajaran kepala sekolah dan guru melalui Platform Merdeka Mengajar dan tindaklanjut Rapor Pendidikan sebagai hasil dari Asesmen Nasional.

Baca Juga  Akan Bertugas di Mabes TNI, Ini Kesan Danrem Makutarama Tentang Kendal

“Salah satu strategi yang ditempuh adalah dengan mengoptimalkan belajar mandiri dan belajar dalam komunitas, melalui gerakan Kendal Bersua,” ujarnya.

Logo Kendal Bersua
Logo Kendal Bersua

Terkait makna dari logo yang dilaunching, Wahyu menjelaskan, ada dua huruf dan satu gambar bermakna dalam logo Kendal Bersua.

Yaitu karakter manusia berbentuk huruf “k” melambangkan Kendal yang merupakan akronim dari kenali dan dalami, mempunyai makna mengenali dan mendalami merupakan langkah awal untuk menginisiasi pada kebutuhan belajar siswa.

Kemudian karakter manusia berbentuk huruf “b” melambangkan kata Bersua yang merupakan akronim dari belajar serentak untuk siswa, mempunyai makna belajar secara serentak dengan tujuan utama adalah siswa.

Baca Juga  5.000 Pasukan Ansor Banser Diminta Tetap Satu Komando Hadapi Tantangan Pemilu 2024

“Sedangkan untuk gambar anak di tengah dalam logo, melambangkan siswa yang menjadi tujuan utama pada proses pembelajaran,” beber Wahyu.

Dirinya berharap, dengan dilaunchingnya Kendal Bersua, proses belajar mandiri maupun secara komunitas bisa lebih optimal.

“Dengan demikian implementasi Kurikulum Merdeka akan memberikan peluang kepada tenaga pendidik untuk bisa berinovasi dalam melakukan transformasi sistem pembelajaran,” ungkap Wahyu. (Mash).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

65 − = 55